Pasukan Israel tewaskan seorang perempuan, lukai 25 di Jalur Gaza

Kota Gaza, (ANTARA News) – Seorang perempuan Palestina tewas dan sedikitnya 25 orang lagi cedera, termasuk seorang wartawan dan seorang petugas paramedis, akibat peluru logam berlapis karet yang ditembakkan tentara Yahudi pada Jumat (11/1).

Saat itu, pasukan Israel menyerang orang Paleatina yang ikut dalam Pawai Akbar Kepulangan, protes yang diselenggarakan di perbatasan Jalur Gaza, kata Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza.

Pasukan Israel juga menembakkan peluru aktif dan peluru logam yang berlapis karet ke pemrotes yang berkumpul di banyak tempat di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel, kata Kantor Berita Palestina WAFA –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Seorang perempuan Palestina meninggal akibat diterjang peluru di kepalanya sementara 14 orang lagi cedera. Perempuan itu diidentifikasi sebagai Amal Mustafa Taramsi (43).

Sebagian orang yang cedera dipindahkan ke rumah sakit dan yang lain dirawat di rumah sakit lapangan.

Lebih dari 205 orang Palestina telah tewas dan lebih dari 22.000 orang lagi cedera oleh pasukan Israel sejak protes Pawai Akbar Kepulangan digelar di perbatasan Jalur Gaza pada 30 Maret 2018.

Sebagian besar korban meninggal pada 14 Mei 2018, ketika pasukan Israel menyerang pemrotes Palestina yang menggelar peringatan ke-70 pendudukan Israel atas Palestina, yang di tempat lain dinamakan Nakba 1948, dan selanjutnya pembersihan setengah juta pengungsi Palestina.

Senjata artileri dan pesawat tempur Israel pada Jumat juga membom dua lokasi di Kota Gaza, dan sepenuhnya menghancurkan kedua tempat itu serta membuatnya terbakar, kata beberapa sumber.

Tak ada laporan mengenai korban jiwa dalam kedua serangan tersebut, meskipun kerusakan besar terjadi.

Baca juga: Pasukan Israel tahan 15 orang Palestina di Tepi Barat
Baca juga: Pasukan Israel tahan 11 orang Palestina dari Tepi Barat

Pada Selasa (18 Desember), Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Nickolay Mladenov menyesalkan merosotnya konsensus internasional dan kurangnya kemajuan dalam proses perdamaian Timur Tengah selama 2018.

“Saya tetap prihatin oleh melemahnya konsensus internasional dan tak-adanya upaya bersama untuk mencapai akhir dari pendudukan (Israel) dan terwujudnya penyelesaian dua-negara melalui perundingan bagi konflik Palestina-Israel, sejalan dengan resolusi terkait PBB dan kesepakatan yang dicapai sebelumnya,” kata Mladenov kepada Dewan Keamanan PBB.

“Saya percaya bahwa saya berbicara atas nama kita semua hari ini, ketika saya mengatakan kita semua memiliki keprihatinan yang sama pada akhir 2018 bahwa kita tidak semakin dekat dengan dihidupkannya kembali upaya bagi penyelesaian melalui perundingan. Tanpa sinar politik, semua upaya per orangan dan bersama kita semata-mata memberi sumbangan bagi penanganan konflik dan bukan penyelesaiannya,” kata utusan PBB tersebut.

Hanya dengan mewujudkan visi dua-negara yang hidup berdampingan dalam kedamaian, keamanan dan saling pengakuan, dengan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan Palestina, dan semua masalah status akhir yang diselesaikan secara permanen melalui perundingan, lah aspirasi sah kedua bangsa itu dapat dicapai, katanya.

Mladenov mengutuk perluasan permukiman Yahudi yang berlanjut, yang, katanya, tidak sah berdasarkan hukum internasional, merusak harapan di kalangan penduduk, kepercayaan antara semua pihak, dan penyelesaian dua-negara.

Perencanaan dan pengesahan tender buat permukiman terus terjadi selama 2018, meskipun dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan pada 2017, katanya.

Baca juga: PLO kutuk kunjungan pejabat AS, Israel ke Jerusalem

Redaktur: Mohamad Anthoni

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ashrawi: “jalan apartheid” israel ancam keamanan dan perdamaian internasional

Ramallah, Palestina, (ANTARA New) – Anggota Komite Pelaksana PLO Hanan Ashrawi, Jumat (11/1), mengutuk keras pembukaan “Jalan Apartheid” baru oleh Israel di Jerusalem dan daerah sekitarnya, sehingga memisahkan orang Palestina dan pemukim Yahudi dengan tembok setinggi delapan meter.

“Pembuatan jalan Apartheid bru menegaskan keinginan nyata Israel untuk menancapkan kuku rejim kolonial rasisnya dan memaksakan `Israel Raya` di semua wilayah Palestina, yang bersejarah,” kata Ashrawi di dalam satu siaran pers.

Ashrawi menambahkan, “Dengan dukungan selimut pemerintah AS saat ini, termasuk pengesahan pelanggaran yang mengerikan oleh Israel dan penghinaan total terhadap hukum internasional serta konsensus global, Israel berhasil menghancurkan kesinambungan wilayah serta keutuhan wilayah Tepi Barat Sungai Jordan –termasuk Jerusalem Timur– untuk meningkatkan permukiman kolonialnya dan memfasilitasi pembentukan Bantustan di seluruh wilayah Palestina, yang diduduki.”

Pejabat PLO tersebut menyeru masyarakat internasional, termasuk Uni Eropa, “untuk menghadapi perwujudan mencolok rasisme kolonial ini dan meminta pertanggung-jawaban Israel atas tindakan sepihak tidak sahnya dan kejahatan perang dengan langkah nyata yang efektif, termasuk sanksi”.

Baca juga: Kementerian Luar Negeri Palestina kutuk pembukaan “Jalan Apartheid” di Jerusalem
Baca juga: PLO kutuk kunjungan pejabat AS, Israel ke Jerusalem

Ashrawi juga mencela serangan militer Israel setiap hari ke dalam jantung kota besar Palestina, termasuk Ramallah dan Al-Bireh, demikian laporan Kantor Berita Palesitna, WAFA –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. Ia menggambarkan perbuatan Isrel itu sebagai aksi teror membabi-buta terhadap penduduk sipil dengan tujuan memaksakan kendali mutlak Israel

Ashrawi juga mengutuk rencana Israel untuk merampas 1.200 dunum (satu dunum sama dengan 1.000 meter) lahan orang Palestina yang diduduki di Bethlehem untuk memperluas permukiman tidak saha Efrat dan Gush Etzion, termasuk tanah yang oleh UNESCO digambarkan sebagai warisan dunia yang terancam.

Wanita pejabat Palestina itu juga menggambarkan keputusan Kementerian Keuangan Israel untuk mengeluarkan izin bagi rencana permukiman terpisah yang akan merampas 139 dunum lahan orang Palestina di Desa Deir Dibwan.

Ashrawi menambahkan, “Kebungkaman dan ketulian organisasi internasional dan pemerintah di seluruh dunia terhadap tindakan Israel membuat berani penguasa pendudukan Israel untuk menghancurkan sisa peluang bagi perdamaian yang adil dan berdirinya Negara Palestina Merdeka dengan perbatasan 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya.”

“Setiap hari, Israel kembali menegaskan statusnya sebagai negara merah yang bertindak dengan kekebalan terus-menerus. Israel mencemooh hukum internasional dan semua negara yang terus menutup mata atas pelanggarannya,” kata Ashrawi.

Ashrawi menyimpulkan, “Sikap diam dan kebungkaman ini akan makin membuat Israel berani untuk meningkatkan aksi agresinya dengan kekebalan dan mengancam keamanan serta perdamaian internasional.”
Baca juga: Pemukim Yahudi cabuti anak pohon Zaitun-Almond di dekat Nablus

Redaktur: Eliswan A.

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kementerian Luar Negeri Palestina kutuk pembukaan “Jalan Apartheid” di Jerusalem

Ramallah, (ANTARA News) – Kementerian Urusan Ekspatriat dan Luar Negeri Palestina telah mengutuk pembukaan oleh penguasa pendudukan Yahudi Jalur 4370 di wilayah pendudukan Jerusalem, yang memisahkan lalu-lintas Israel dari kendaraan orang Palestina.

Kementerian itu mengutuk dengan sekeras-kerasnya pembukaan “Jalan Apartheid” baru-baru ini dan menyampaikan “keterkejutannya atas kebungkaman internasional terhadap pengejawantahan Apartheid di wilayah pendudukan Palestina”, demikian laporan Kantor Berita Palestina, WAFA –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi.

Kementerian tersebut juga menyampaikan keheranannya yang mendalam sehubungan dengan kebungkaman, kelemahan dan sikap tidak peduli masyarakat internasional terhadap ratusan resolusi internasional mengenai situasi di Palestina.

Baca juga: Pasukan Israel tahan 15 orang Palestina di Tepi Barat
Baca juga: Pemukim Yahudi cabuti anak pohon Zaitun-Almond di dekat Nablus

“Memalukan buat masyarakat internasional untuk menjadi saksi pembangunan dan mendalamnya rejim Apartheid di Palestina, yang diduduki, tanpa mengangkat jari,” kata kementerian itu di dalam satu siaran pers.

Pernyataan oleh MoFA itu dikeluarkan setelah penguasa pendudukan Israel mengumumkan pembukaan Jalur 4370, yang telah dijuluki “Jalan Apartheid”.

Jalan tersebut dipisahkan di bagian tengah oleh tembok setinggi delapan meter.

Sisi barat jalan itu berfungsi untuk orang Palestina, yang tak bisa memasuki Jerusalem, sedangkan sisi timur jalan tersebut disediakan buat pemukim Yahudi –yang sekarang bisa mencapai Permukiman “Bukit Prancis” di Jerusalem dan Jabal Al-Mukabir dengan lebih mudah.
 

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemrotes lempari Kedubes Iran di Belanda dengan batu

Den Haag, 11/1 (ANTARA News) – Sekelompok orang yang berdemonstrasi untuk menentang pembunuhan dua pembangkang Iran di Belanda menyerang Kedutaan Besar Iran di Den Haag pada Rabu larut malam (9/1) dan ditangkap karena mengganggu ketenangan masyarakat, kata media Belanda.

Protes tersebut dikabarkan dimulai secara damai tapi belakangan berubah rusuh.

Beberapa pemrotes dilaporkan melemparkan batu dan benda-benda lain ke gedung kedutaan besar itu dan berusaha memasukinya dengan cara memanjat pagar kompleks tersebut.

Polisi menangkap empat tersangka, termasuk putra Ahmad Mola Nissi –seorang pemimpin kelompok separatis Gerakan Perjuangan Arab bagi Pembebasan Ahwaz (ASMLA), yang dipandang sebagai organisasi teroris oleh Teheran, kata Kantor Berita Anadolu –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi.

Nissi (52) ditembak hingga tewas di depan pintu kediamannya di Den Haag pada November 2017.

Pembangkang lain, Ali Motamed, tewas dalam peristiwa serupa di luar rumahnya di Amsterdam pada Desember 2015. Iran menyatakan Motamed bertanggung jawab atas serangan bom di Teheran pada 1981, yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Demonstrasi itu dilancarkan setelah Pemerintah Belanda pada Selasa (8/1) menuduh Iran menyewa gerombolan penjahat untuk membunuh kedua orang tersebut dan setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi atas Teheran atas apa yang dikatakannya sebagai “kegiatan luas perencanaan pembunuhan di seluruh Eropa”.

ASMLA –kelompok pembangkang nasional Arab– bertujuan mendirikan negara terpisah di Provinsi Khuzestan, yang kaya akan minyak di bagian barat-daya Iran.

Baca juga: Iran panggil Dubes Prancis soal pertemuan pembangkang di Paris

Penyunting: Chaidar Abdullah

Pewarta:
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tentara Israel lancarkan serangan di Ramallah, Al-Bireh

Ramallah, Palestina (Antara/Anadolu/WAFA-OANA) – Tentara Israel pada Rabu (9/1) melancarkan serangan di Kota Besar Al-Bireh dan Ramallah di Tepi Barat Sungai Jordan, kata beberapa saksi mata.

Beberapa saksi mata mengatakan kepada wartawan Kantor Berita Anadolu –yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi– bahwa serangan itu telah menyulut bentrokan di beberapa bagian Ramallah dan Al-Bireh. Dalam bentrokan tersebut, tentara Israel menggunakan amunisi aktif, peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan pemuda Palestina yang marah.

Sebanyak 15 kendaraan militer Israel menyerbu Permukiman Al-Masyoon dan Ein Minjeb di Ramallah, tempat tentara Israel menyita rekaman dari kamera keamanan dari beberapa toko.

Pasukan Israel juga menyerbu Kota Kecil Beitunia dan Kamp Pengungsi Al-Am`ari, tempat mereka melepaskan tembakan ke arah pemuda lokal yang memprotes penyerbuan itu.

Banyak pemuda Palestina membalas dengan melempar batu ke tentara Israel dan membakar ban mobil.

Tak ada laporan mengenai korban cedera serius atau korban jiwa, meskipun beberapa saksi mata mengatakan seorang pemuda setempat telah ditangkap.

Selama beberapa hari belakangan ini, pasukan Israel telah melancarkan serangan sporadis di Ramallah dan sekitarnya, sehingga memicu bentrokan terbatas dengan warga setempat.

Penguasa Yahudi telah berusaha membenarkan serangan tersebut dengan mengatakan serangan itu “bertujuan mencari orang Palestina yang dicari”.

Pada Ahad (6/1), sejumlah orang Palestina cedera akibat ditembak peluru logam yang berlapis karet, dan beberapa orang lagi sesak nafas sementara bentrokan berkecamuk terus di Al-Bireh, dekat Ramallah, kata koresponden WAFA.

Pasukan Israel menyerbu Kota Al-Bireh, menyerbu toko komersial di daerah tersebut, dan menyita gambar dari kamera keamanan, sehingga menyulut bentrokan dengan warga.

Pasukan Israel menggunakan peluru logam yang dilapisi karet dan gas air mata terhadap warga, menembak dan melukai beberapa orang dengan peluru karet, kata Kantor Berita Palestina, WAFA. Beberapa lagi orang Palestina menderita sesak nafas akibat menghirup gas air mata.

Pada Ahad pagi, seorang anak yang berusia enam-belas tahun dilaporkan ditembak dan menderita luka parah akibat peluru logam yang berlapis karet selama penyerbuan militer Israel ke dalam Kota Al-Bireh.

Penyerbuan militer Israel itu dilancarkan setelah satu bus Israel dibakar pada Sabtu malam di dekat permukiman Beit El.
Penyunting : Chaidar Abdullah

(T.C003/A/C003/F001) 10-01-2019 07:30:42

Pewarta:
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Turki akan minta AS serahkan pangkalan militernya di Suriah

Ankara (ANTARA News) – Turki, dalam perundingannya dengan pejabat Amerika Serikat (AS), akan meminta negara tersebut untuk menyerahkan pangkalan militer AS di Suriah kepada Ankara atau menghancurkannya, suatu permintaan yang dapat memperumit pembahasan terkait penarikan pasukan AS dari Suriah.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Turki Ibrahim Kalin pada Selasa, beberapa hari setelah Bolton menambahkan persyaratan terhadap penarikan pasukan AS. Ia mengatakanTurki harus sepakat melindungi sekutu Kurdi AS, milisi YPG (Yekineyen Parastina Gel), yang dipandang Ankara sebagai kelompok teroris.

Presiden Donald Trump bulan lalu mengatakan akan menarik kembali sekitar 2.000 personel AS di Suriah, dengan menyebut bahwa mereka telah berhasil mencapai misi menaklukkan ISIS. Langkahnya memicu kekhawatiran di antara pejabat Washington dan sekutu di luar negeri serta mendorong pengunduran diri Menteri Pertahanan James Mattis.

YPG telah menjadi sekutu penting AS dalam perjuangan mereka melawan ISIS, dukungan yang telah lama menimbulkan ketegangan antara Washington dan Ankara. Turki menganggap YPG sebagai cabang kelompok terlarang Partai Pekerja Kurdi (Partiya Karkeren Kurdistane/PKK), yang telah melancarkan pemberontakan selama tiga dekade di bagian tenggara Turki yang sebagian besar didominasi masyarakat Kurdi.

“Berikan pangkalan itu atau hancurkan,” menurut berita utama surat kabar Hurriyet, merujuk kepada 22 pangkalan militer AS di Suriah. Surat kabar itu mengutip sumber tanpa nama, yang menyatakan bahwa Turki tidak akan menerima kemungkinan penyerahan pangkalan Washington kepada YPG.

Pejabat keamanan senior Turki pekan lalu mengatakan kepada Reuters bahwa Washington perlu mengizinkan Turki untuk menggunakan pangkalan mereka di Suriah.

Di tengah ketegangan yang kian memanas terkait strategi Trump di Suriah, masih belum jelas apakah Bolton akan bertemu dengan Presiden Tayyip Erdogan.

Delegasi yang dipimpin Bolton juga mengikutsertakan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford dan utusan khusus AS di Suriah, James Jeffrey.

Kalin merupakan juru bicara Erdogan sekaligus wakil kepala dewan keamanan dan kebijakan luar negeri Turki.

Erdogan pada Senin memperingatkan bahwa penarikan pasukan AS harus direncanakan dengan hati-hati dan dengan mitra yang tepat. Ia mengatakan hanya Turki yang memiliki “kekuatan dan komitmen untuk melaksanakan tugas tersebut.”

Dalam sebuah artikel yang tidak memiliki kesimpulan akhir untuk New York Times, Erdogan mengatakan bahwa Turki berkomitmen untuk mengalahkan ISIS dan “kelompok teroris lainnya” di Suriah.

Gedung Putih menegaskan kembali pada Senin bahwa Trump belum mengubah posisinya terkait penarikan pasukan

Baca juga: Rusia dan Turki bahas suriah setelah penarikan tentara AS

Sumber: Reuters
Penyunting: Katriana/Maria Dian A

Pewarta:
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menlu Arab Saudi: kasus Khasoggi bawa perubahan, bukan krisis

Riyadh, Arab Saudi (ANTARA News) – Menteri luar negeri Arab Saudi yang baru diangkat pada Jumat (28/12) mengatakan kasus Jamal Khashoggi telah membawa lebih banyak perubahan ketimbang krisis ke negeri itu, demikian laporan media setempat.

Ketika berbicara kepada stasiun berita Al-Hurra, Ibrahim al-Assaf mengeluarkan komentar pertamanya mengenai masalah.

Raja Arab Saudi Salman melakukan perombakan terbatas Kabinet pada Kamis (27/12) dengan mengganti beberapa menteri. Al-Assaf diangkat sebagai menteri luar negeri, untuk menggantikan Adel Al-Jubeir –yang diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Luar Negeri.

Dekrit kerajaan tersebut juga menyerukan penataan kembali Dewan Urusan Keamanan dan Politik –di bawah kepemimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman– dan penataan kembali Dewan bagi Urusan Ekonomi dan Pembangunan.

Putra mahkota itu mempertahankan posisinya sebagai Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, demikian laporan Kantor Berita Anadolu –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi.

Dekrit pada Kamis tersebut juga menyerukan pembentukan lembaga pertama pemerintah di kerajaan yang kaya akan minyak itu, yang memusatkan perhatian pada eksplorasi yang akan dipimpin oleh Sultan bin Salman.

Khashoggi, kolumnis untuk The Washington Post, hilang setelah ia memasuki Konsulat Arab Saudi di Isntabul, Turki, pada 2 Oktober.

Setelah mengeluarkan bermacam penjelasan yang bertolak-belakang, Riyadh akhirnya mengakui Khashoggi dibunuh di dalam gedung misi diplomatik, dan menyatakan kegagalan menafsirkan operasi sebagai penyebabnya.

Penyunting: Chaidar Abdullah

Pewarta:
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Rusia dan Turki bahas suriah setelah penarikan tentara AS

Moskow (ANTARA News) – Menteri luar negeri dan pertahanan dari Rusia dan Turki membahas koordinasi antara pasukan mereka di Suriah setelah keputusan Amerika Serikat untuk menarik tentara dari republik Arab itu, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Sabtu.

“Hari ini, kesepahaman dicapai mengenai bagaimana wakil-wakil militer dari Rusia dan Turki akan terus mengkoordinasikan langkah-langkah mereka di lapangan berdasarkan kondisi baru dengan tujuan untuk menghapuskan ancaman teroris di Republik Arab Suriah,” kata Lavrov.

Dalam perubahan kebijakan tiba-tiba, Presiden AS Donald Trump mengatakan pekan lalu, Washington akan menarik sekitar 2.000 personelnya di Suriah, menjungkirbalikkan pilar kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah dan membuat sekutu-sekutu AS merasa khawatir, demikian Reuters melaporkan.

Keputusan itu diambil setelah percakapan telepon Trump dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin itu menyepakati perlunya bagi koordinasi yang lebih efektif mengenai negara yang dicabik perang saudara tersebut.

Tentara AS di Suriah telah bekerja sama dengan YPG/PKK untuk memerangi Da`esh (ISIS), meskipun Turki keberatan dengan tindakan memanfaatkan satu kelompok teror itu untuk memerangi kelompok teror lain.

Baca juga: Rusia berkoordinasi dengan Turki mengenai kegiatannya di Suriah

Baca juga: Menlu Rusia dan Turki bahas Suriah melalui telepon

Kantor berita Turki Anadolou melaporkan dari Azas, Suriah, pada Jumat pagi (28/12), Presiden Erdogan mengatakan Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad “melancarkan operasi psikologis”.

Ia menambahkan, “kami menentang pemecahan Suriah. Tujuan kami ialah kelompok teroris pergi dari sana. Jika kelompok (teroris) itu pergi, maka tak ada tugas lagi buat kami.”

Erdogan juga mengatakan satu delegasi pejabat senior Turki dijadwalkan mengunjungi Moskow pada Sabtu untuk membahas situasi di Suriah, termasuk Manbij.

Pada 1 November, sebelum pengumuman bahwa pasukan AS akan keluar dari Suriah, tentara AS dan Turki memulai patroli gabungan di Manbij sebagai bagian dari satu kesepakatan yang dipusatkan pada penarikan petempur YPG/PKK demi kestabilan wilayah tersebut.

Dalam aksi teror lebih dari 30 tahun melawan Turki, PKK –yang dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris– telah bertanggung jawab atas kematian sebanyak 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. YPG adalah cabang PKK di Suriah.

Erdogan telah mengisyaratkan operasi lintas-perbatasan terhadap YPG/PKK di Suriah akan segera dilancarkan. Sejak 2016, Ankara telah melancarkan dua operasi militer serupa di Suriah Utara.

Editor: Gusti Nur Cahya Aryani

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

NGO: AS/YPG/PKK tewaskan 165 warga sipil dalam tiga bulan

Ankara, Turki (ANTARA News) – Dalam waktu sekitar tiga bulan, koalisi pimpinan AS dan gerilyawn YPG/PKK menewaskan 165 warga sipil di satu wilayah Suriah Timur, kata satu organisasi non-pemerintah (NGO) Suriah di dalam satu laporan, Sabtu (29/12).

Serangan pasukan koalisi, yang berusaha mengusir anggota Da`esh dari daerah di sekitar Deir Ez-Zour, menewaskan 153 warga sipil, termasuk 71 anak-anak dan 29 perempuan, dan serangan oleh gerilyawan YPG/PKK menewaskan 12 warga sipil selama masa yang sama –termasuk tiga anak kecil, kata Jaringan Suriah bagi Hak Asasi Manusia (SNHR) di dalam laporan yang mencakup masa 101 hari dari 11 September sampai 20 Desember.

Setelah pusat Kabupaten Hajin di Deir Ez-Zour diserbu oleh kelompok teror YPG/PKK, sebanyak 6.000 warga sipil di desa dan kota kecil lain yang dikuasai Da`esh terjebak di dalam pengepungan pasukan Pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan gerilyawan YPG/PKK, kata laporan itu.

Baca juga: Iran: penempatan tentara AS di Suriah “tak logis, sumber ketegangan”

Baca juga: Suku Arab di Suriah bergerak setelah Trump putuskan tarik pasukan

Laporan tersebut menambahkan Da`esh menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, sehingga mereka terpajan serangan membabi-buta oleh pasukan pemerintah dan gerilyawan YPG/PKK.

Da`esh masih menguasai lima kota kecil di bagian pedesaan Provinsi Deir Ez-Zour di Suriah Timur.

Dengan bantuan AS, anggota YPG/PKK menguasai sisi timur Sungai Eufrat dan daerah pedesaan di bagian barat serta timur Dei Ez-Ezour. Prancis juga menyediakan dukungan artileri buat kelompok teror itu.

Sementara itu pasukan pemerintah tetap menguasai bagian barat Deir Ez-Zour.

Setakat ini, anggota YPG/PKK menduduki sebanyak 28 persen dari seluruh wilayah Suriah.

Turki telah lama menyampaikan keberatan dengan tindakan AS bersekutu dengan YPG/PKK untuk melawan Da`esh, dan mengatakan penggunaan satu kelompok teror untuk memerangi kelompok teror lain tak masuk akal.

Dalam kegiatan selama lebih dari 30 tahun melawan Turki, PKK –yang dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa– telah bertanggung-jawab atas kematian tak kurang dari 40.000, termasuk perempuan dan anak kecil. YPG adalah cabang PKK di Suriah.

Turki telah menyatakan Ankara akan segera melancarkan operasi kontra-teror ketiga terhadap anggota YPG/PKK di Suriah Utara, dengan alasan ancaman kedua kelompok gerilyawan itu terhadap Turki dan warga sipil lokal.

Suriah telah terjerumus ke dalam perang saudara sengit sejak awal 2011, ketika Pemerintah Bashar al-Assad menindak pemrotes dengan kekuatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Editor: Chaidar Abdullah

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018